TNI AL Bongkar Jalur Tikus Masuknya Imigran Ilegal

TNI AL Bongkar Jalur Tikus Masuknya Imigran Ilegal

VIVA   –  Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) baru-baru ini berhasil menangkap 63 Pekerja Migran Ilegal (PMI) dengan masuk lewat jalur laut pada sekitar pantai Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara.

Panglima Koarmada I Laksamana Muda (Laksda) TNI Muhammad Ali menyatakan, patroli Gugus Tempur Laut Koarmada I, KRI Siwar-646 telah berhasil mengamankan kapal kayu ukuran 20 GT yang membawa 63 Pekerja Migran Ilegal (PMI) di Perairan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, dalam tanggal 11 Mei lalu.  

Laksda Ali mengungkapkan, penangkapan kapal kayu yang mendatangkan 63 WNI yang bekerja dalam luar negeri itu bukanlah peristiwa yang pertama. Menurutnya, sejak tiba mewabahnya COVID-19 akhir tahun 2019 lalu, setidaknya sembilan kapal dengan seribu lebih anak buah kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal melancong telah kembali ke tanah minuman.

Kembalinya para karena perusahannya berhenti hidup karena dampak wabah. Dampak hilangnya pekerjaan di negara tujuan berfungsi, mendorong gelombang PMI pulang secara legal maupun illegal.  

“PMI illegal kembali tanah air memanfaatkan kelengahan petugas penegak hukum dengan masuk melalui pelabuhan tikus untuk mengelabuhi petugas, ” kata Laksda TNI Muhammad Ali melalui keterangan resmi yang diterima VIVA Militer, Rabu, 13 Mei 2020.

Ali menambahkan, salah satu jalur tikus dengan jadi favorit bagi para PMI untuk masuk ke wilayah Indonesia secara ilegal adalah sepanjang pantai Tanjung Balai Asahan, Sumatera Mengadukan.

“Daerah ini dipilih salah satunya karena karakteristik pantai yang banyak terdapat muara sungai sehingga menyulitkan perlindungan, ” ujarnya.

Bertambah jauh ia katakan, modus yang digunakan PMI untuk kembali menyelundup ke Indonesia cukup beragam. Antaralain adalah menggunakan kapal ikan atau kapal barang, kemudian mereka dijemput menggunakan kapal-kapal kecil ukuran 3 GT yang sudah dipersiapkan oleh agen dan kapal kecil itu kemudian berpencar di perairan Indonesia.

Dari beberapa urusan, tidak sedikit diantara mereka yang diterlantarkan oleh kapal pengangkutnya. Para PMI itu ditinggal di mana saja, seperti di muara sungai atau di hutan-hutan bakau.

“Pada dua bulan belakang ini, Pangkalan TNI AL Semenanjung Balai Asahan saja telah menyimpan 14 kasus dengan jumlah bertambah dari 590 PMI masuk secara illegal, ” katanya.

Menyikapi situasi serba sulit itu, Ali menegaskan pihaknya bersama secara Polri dan stakeholder kemaritiman yang lain terus berupaya melakukan penambahan patroli di perairan Indonesia, khususnya di sekitar wilayah pantai Tanjung Balai Asahan.  

Karena masukknya PMI secara illegal itu dapat meningkatkan kerawanan terhadap pengendalian penyebaran COVID-19. PMI berpotensi sebagai carrier (pembawa) COVID-19, sebab dipastikan menghindari pemeriksaan maupun cara sesuai protokol kesehatan.

Artikel selanjutnya Slot Online