Abaikan Trump, Menhan AS Tarik Tentara dari Washington ke Barak

Abaikan Trump, Menhan AS Tarik Tentara dari Washington ke Barak

VIVA   –  Perpecahan di level elit Amerika Serikat (AS) mulai terjadi pasca terjadinya gelombang aksi besar-besaran dengan memprotes pembunuhan seorang warga kulit hitam, George Floyd oleh oknum kepolisian Minneapolis beberapa hari cerai-berai.  

Kali itu perpecahan sikap ditunjukan oleh Menteri Pertahanan AS, Merk T. Esper dalam menyikapi gelombang aksi muncul rasa ribuan warga AS dengan terjadi hampir di seluruh praja Amerika Serikat. Esper menolak membanting instruksi Presiden Donald Trump dengan meminta Pentagon mengerahkan ribuan prajurit bersenjata dalam menghadapi aksi unjuk rasa yang sudah mendekati Gedung Putih itu.  

Bahkan, Ester berencana akan mengembalikan ribuan tentara bersenjata AS dengan sudah berada di Washington D. C kembali ke barak-barak mereka.

“Saya tidak mendukung penerapan Undang-undang Perlawanan. Pilihan untuk menggunakan pasukan tugas aktif dalam peran penegakan hukum hanya boleh digunakan sebagai opsi terakhir. Dan hanya dalam situasi yang paling mendesak dan mengerikan. Kita tidak dalam situasi sesuai itu sekarang, ” kata Esper dikutip Viva Militer dari Military. com , Kamis, 4 Juni 2020.

Rencana penarikan pasukan militer oleh Menhan AS itu juga dibenarkan oleh Sekertaris Angkatan Darat AS, Ryan McCarthy. Menurut McCarthy, keputusan mengembalikan ribuan tentara bersenjata AS dari Washington D. C ke barak itu terjadi setelah Menteri Pertahanan AS, Mark Ester mendatangi pertemuan terbatas dengan sejumlah petinggi Pentagon lainnya di Gedung Suci hari Rabu kemarin.  

Namun, McCarthy tidak dapat memastikan apakah Ester bertemu secara Presiden Donald Trump dalam mengambil keputusan tersebut. Hanya saja, McCarthy berdalih, keputusan menarik pasukan militer ke barak dari Washington D. C itu dilakukan karena pertimbangan lain, yaitu kekuatan kepolisian nasional dan dukungan militer di wilayah itu sudah cukup untuk bertemu gelombang aksi unjuk rasa di sekitar Gedung Putih. Sehingga, lanjut McCarthy, Esper berpandangan saat tersebut tidak diperlukan pengerahan pasukan tentara dari pangkalan-pangkalan militer AS buat menghadapi ribuan demonstran.  

Lebih jauh, Ia   menjelaskan, dirinya sempat menerima instruksi dari Pentagon untuk mengirim sekitar 200 tentara dengan pasukan respon lintas udara Airbone 82 ke Washington D. C pada hari Rabu kemarin, 3 Juni 2020. Namun, selang kurang jam kemudian, Menhan Ester sudah merubah keputusan dengan menginstruksikan dirinya untuk membawa pulang kembali pasukan Airbone 82 ke pangkalan Militer Fort Bragg.      

Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi sebab Presiden AS, Donald Trump terpaut dengan penarikan tentara bersenjata lantaran Gedung Putih tersebut.

Laporan Military. com menyebutkan, sejak Senin malam, setidaknya seribu bertambah tentara AS diturunkan untuk mengamankan Gedung Putih dari gelombang gerak laku ribuan masa yang menolak rasisme terjadi di AS. Tentara bersenjata yang dikerahkan oleh Presiden Donald Trump antara lain, Satu batalion infanteri yang ditunjuk Gugus Suruhan 504 dari pangkalan militer dalam Fort Bragg, kemudian dari Basis Brigade Polisi Militer ke-16 pada luar Fort Bragg, dan Batalyon Polisi Militer ke-91 dari Fort Drum.  

Diluar itu, Trump juga telah menurunkan 17000 lebih pasukan Garda Nasional yang disebar di 23 negara bagian Amerika Serikat untuk menghadapi gelombang aksi unjuk rasa solidaritas atas kematian George Floyd dalam Minnesota pekan lalu.