Fadli Zon: Indonesia Akan Bubar Bila Pelajaran Sejarah Dihapuskan

Fadli Zon: Indonesia Akan Bubar Bila Pelajaran Sejarah Dihapuskan

VIVA   –  Bagian DPR Fraksi Partai Gerindra, Fadli Zon mengkhawatirkan Indonesia akan bubar apabila mata pelajaran sejarah akan dihilangkan oleh pemerintah dari kurikulum sekolah. Karena menurut dia, Indonesia mau kehilangan identitas.  

Baca Juga:   Mendagri Tito Tunda 3. 000 Pilkades di Seluruh Indonesia

“Kalau mata pelajaran sejarah akan ‘dihilangkan’, maka sebentar lagi manusia Indonesia akan kehilangan nama, jati diri dan memori kolektifnya. Sesudah itu, ya Indonesia bubar, ” kata Fadli dikutip dari twitternya pada Minggu, 20 September 2020.

Diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan langsung merespons terkait hebohnya pelajaran memori yang akan dihapus oleh negeri. Namun, pemerintah melalui Kemendikbud terus mengkaji rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional.  

Kajian dikenal dilakukan memperhatikan berbagai hasil evaluasi implementasi kurikulum, baik yang dikerjakan pemerintah maupun masyarakat serta mutasi paradigma keragaman, bukan keseragaman di implementasi kurikulum.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno mengucapkan, penyederhanaan kurikulum masih tahapan introduksi karena membutuhkan proses dan pengkajian yang panjang.

“Rencana penyederhanaan kurikulum masih berada pada tahap kajian akademis, ” logat Totok pada Sabtu, 19 September 2020.

Totok menguatkan, kabar pelajaran sejarah akan keluar dari kurikulum tidak benar. Menurutnya, pelajaran sejarah tetap akan diajarkan dan diterapkan di setiap generasi.  

“Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dibanding keragaman dan kemajemukan serta penjelajahan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan muncul, ” ujarnya.

Kenangan, lanjut dia, merupakan komponen istimewa bagi Indonesia sebagai bangsa dengan besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. “Nilai-nilai yang dipelajari di sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa, ” sahih dia.

Totok meneruskan, penggodokan penyederhanaan kurikulum dilakukan secara prinsip kehati-hatian serta akan membawabawa seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Dalam proses perencanaan serta diskusi ini, tentunya Kemendikbud benar mengharapkan dan mengapresiasi masukan dibanding seluruh pemangku kepentingan pendidikan, termasuk organisasi, pakar, dan pengamat pendidikan, yang merupakan bagian penting dalam pengambilan kebijakan pendidikan, ” katanya.